SURABAYA, Cakrawalanews.info – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menegaskan bahwa bangunan Balai Pemuda tetap terbuka lebar bagi para seniman untuk mengembangkan kesenian dan budaya di Kota Pahlawan.
Melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, saat ini sedang dilakukan penataan regulasi penggunaan Balai Budaya agar manajemen pemanfaatannya menjadi lebih baik ke depannya.
Pelaksana tugas (Plt) Disbudporapar Kota Surabaya, Herry Purwadi menanggapi polemik pengosongan tempat yang beredar di kalangan seniman dan media sosial dengan menjelaskan bahwa surat edaran (SE) terkait pengosongan tempat bukan bermaksud mengusir seniman, melainkan bertujuan untuk menata kembali fungsi gedung tersebut.
“Pada saat ini memang perlu adanya penataan regulasi yang jelas, bahwa Balai Pemuda akan tetap menjadi pusat pengembangan seni dan budaya. Namun, harus ada regulasi yang jelas untuk penataan, pemanfaatannya digunakan oleh siapa, karena kami pemerintah kota wajib (melakukan) dan itu menjadi tanggung jawab kami,” kata Herry pada hari Senin, 30 Maret 2026.
Herry menekankan bahwa langkah ini diambil agar tercipta komunikasi dan payung hukum yang jelas antara pemerintah dengan para pengguna gedung di kompleks Balai Pemuda.
“Karena pengguna di situ juga tidak harus sewa, akan tetapi ada ikatan hukum yang jelas,” ujarnya.
Terkait hal ini, Herry menyebutkan bahwa Pemkot Surabaya sebelumnya juga sudah membuka forum komunikasi dengan para seniman melalui Musyawarah Kebudayaan yang diselenggarakan pada hari 14 Februari 2026 di Balai Pemuda.
Melalui forum tersebut, Herry menjelaskan bahwa pemerintah menampung aspirasi dan masukan para seniman demi pengembangan seni serta budaya yang lebih progresif di Kota Surabaya.
Herry menambahkan bahwa pemerintah sangat menghargai semua lembaga kesenian yang ada dan selalu membuka diri untuk berdialog guna menemukan solusi terbaik bagi semua pihak.
“Kita harus berkomunikasi yang baik, duduk, berdialog sehingga ada solusi yang dapat diberikan. Karena kan tujuannya satu, untuk bersama-sama mengembangkan seni-budaya, dan itu kan kecintaan bagi seluruh seniman yang ada di Kota Surabaya. Saya yakin, bahwa dinamika itu hadir karena kecintaan mereka (seniman) terhadap seni budaya dan memajukan seni-budaya di Kota Surabaya,” tambahnya.
Herry berharap pemerintah dan para seniman bisa terus bersinergi dalam memajukan identitas budaya di Kota Surabaya.
“Bahwa tanpa adanya seniman, pemerintah bukan apa-apa, untuk itu kita harus selalu bergandengan tangan berdiskusi, komunikasi yang baik untuk mewujudkan cita-cita dalam memajukan dan mengembangkan seni-budaya di Kota Surabaya,” pungkasnya.(wan/an)
