Kampung ASI Jadi Inovasi Baru Surabaya Perangi Stunting – cakrawalanews.co

CakrawalaNews.co – Pemerintah Kota Surabaya bersama Tim Penggerak (TP) PKK terus memperkuat langkah eliminasi stunting melalui inovasi berbasis komunitas.

Salah satunya dengan menghadirkan “Kampung ASI” sebagai bagian dari Gebyar Lomba Bersama Wujudkan Surabaya Emas (BWSE) – Eliminasi Stunting Jilid IV, yang resmi dimulai sejak awal Juli 2025.

Advertising

Advertising

Program BWSE Jilid IV kali ini menyasar 607 baduta (bayi di bawah dua tahun) yang menunjukkan indikasi T2, yakni tidak mengalami kenaikan berat badan dua kali berturut-turut. Langkah ini dinilai sebagai pendekatan preventif dari hulu untuk mencegah kasus stunting baru di Kota Pahlawan.

Ketua TP PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, menyampaikan bahwa intervensi tidak hanya soal asupan gizi, tetapi juga soal edukasi dan kebiasaan keluarga dalam mengasuh anak.

“Kami ingin menyentuh dari hulu. Kampung ASI adalah bentuk nyata kolaborasi berbasis lingkungan yang bisa mendorong keberhasilan pemberian ASI eksklusif,” ujarnya, Sabtu (5/7/2025).

Penilaian terhadap Kampung ASI meliputi indikator capaian ASI eksklusif di wilayah kelurahan, keaktifan pendampingan oleh kader, serta dukungan lintas sektor. Pendekatan ini diyakini mampu menciptakan ekosistem yang ramah ibu menyusui, sekaligus mengurangi risiko stunting sejak usia dini.

Selama dua bulan penuh, BWSE Jilid IV akan melibatkan ratusan tim pendamping keluarga (TPK) dan tenaga medis dari puskesmas dalam pemantauan tumbuh kembang anak. Selain itu, keluarga sasaran juga mendapatkan dukungan gizi berupa susu, ikan, dan telur, serta pelatihan laktasi dan MPASI oleh konselor dokter spesialis anak.

“Kami ingin orang tua terbiasa dengan pola hidup sehat dan pengasuhan yang benar. Dua bulan ini adalah fase penting untuk membentuk konsistensi itu,” tambah Rini.

Tak hanya TP PKK, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Jawa Timur juga turut terlibat aktif. Melalui program 1 Puskesmas 1 Pediatrician, IDAI memastikan pendampingan oleh dokter spesialis anak di seluruh puskesmas di Surabaya. Penyuluhan gizi, pemantauan langsung, hingga kunjungan rumah menjadi bagian dari strategi pencegahan yang menyeluruh.

“Kampung ASI adalah fondasi penting. Di sana, edukasi dan dukungan komunitas bisa berjalan bersama,” kata Dr. dr. Mira Ermawati, Sp.A(K) dari IDAI Jatim.

Dengan dukungan berbagai pihak, Pemkot berharap BWSE Jilid IV mampu menjadi model percontohan nasional dalam upaya eliminasi stunting berbasis keluarga dan komunitas. “Harapannya, Surabaya tidak hanya bebas stunting, tetapi juga menjadi kota yang membentuk generasi emas sejak dalam dekapan pertama,” pungkas Rini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *