Surabaya, CakrawalaNews.co – Tidak semua mimpi lahir dari kehidupan yang serba mudah.
Sebagian justru tumbuh dari keterbatasan, perjalanan panjang, dan keberanian untuk terus melangkah meski titik awalnya jauh dari pusat kemapanan.
Pesan itulah yang tercermin dalam kisah perjalanan Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia yang diangkat melalui serial film Melangkah Dari Timur.
Perjalanan Bahlil dari Timur Indonesia hingga berada di jajaran elite politik nasional dinilai dapat menjadi gambaran bahwa latar belakang bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.
Wakil Ketua DPD Golkar Jawa Timur Arif Fathoni mengatakan, kisah Bahlil bukan sekadar perjalanan seorang tokoh menuju posisi politik.
Ada pesan optimisme yang ingin disampaikan kepada masyarakat, khususnya generasi muda yang lahir dari keluarga sederhana.
Menurut Mas Toni sapaan akrab Arif Fathoni salah satu bagian penting dari perjalanan Bahlil adalah ketika dirinya masih muda dan harus menjalani kuliah sambil bekerja sebagai sopir angkot.
“Karena di masa muda ketika Pak Bahlil ingin menggapai cita-cita, beliau kuliah sambil kerja jadi supir angkot,” kata Toni pada Selasa, 20 Oktober 2026.
Bagi Mas Toni, pengalaman tersebut justru menjadi pesan kuat bahwa pekerjaan yang dilakukan seseorang tidak menentukan seberapa tinggi masa depannya.
Selama pekerjaan itu halal dan tidak merugikan orang lain, pekerjaan tersebut dapat menjadi bagian dari perjuangan untuk mencapai cita-cita.
“Artinya, kami ingin memberikan pesan kepada masyarakat Jawa Timur, anak-anak supir len, maupun supir angkot itu sendiri bahwa profesi apapun, sepanjang itu halal dan tidak merugikan orang lain, itu bisa menjadi penopang dalam mengimplementasikan cita-cita,” ujarnya.
Pesan itu kemudian terasa semakin kuat ketika Bahlil menyapa para sopir angkot di Terminal Joyoboyo, Surabaya.
Kehadiran para kader Golkar di tengah para sopir tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan sosial, tetapi juga sebagai upaya menghadirkan kembali cerita perjuangan Bahlil kepada masyarakat.
Fathoni secara khusus meminta anak-anak sopir angkot tidak merasa rendah diri hanya karena melihat kondisi keluarganya.
